• Breaking News


    Rabu, 27 Februari 2013

    Pertumbuhan Ekonomi dan Kesempatan Kerja

    Ainur Rofiq
    Pertumbuhan ekonomi yang tinggi setiap tahun yang mencapai rata rata diatas 6 pertahun, memberikan peluang bagi tumbuhnya kesempatan kerja baru. Memang ada sinyalemen bahwa kualitas pertumbuhan ekonomi yang kita capai, masih jauh dari kemampuannya dalam menyerap tenaga kerja. Salah satu alasanya adalah rendahnya pertumbuhan ekonomi yang dicapai.

    Diperkirakan setiap 1 persen pertumbuhan ekonomi yang kita capai hanya mampu menyerap tenaga kerja maksimal 250 ribu, sementara menurut standar organisasi perburuhan internasonal (international labour organization/ILO), setiap 1 persen pertumbuhan ekonomi bisa menyerap 350 ribu sampai 400 ribu tenaga kerja.
    Ini adalah sebuah tantangan dalam perekonomian kita. Sebab pengangguran kita masih cukup tinggi, sementara perekonomian terus tumbuh positif, tetapi masih kurang mampu menyerap pertumbuhan tenaga kerja baru.

    Menurut McKinsey Global Institute, pertumbuhan ekonomi Indonesia termasuk paling stabil di dunia, melebihi pertumbuhan ekonomi negara-negara maju yang tergabung dalam Organisasi Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan (OECD). Bahkan McKinsey Global Institute memperkirakan ekonomi Indonesia akan menjadi terbesar ke-7 dunia pada 2030 mendatang. Komite Ekonomi Indonesia (KEN), juga memperkirakan Indonesia akan menjadi negara maju menuju lima besar kekuatan ekonomi dunia pada 2030.

    Keberhasilan dalam pengelolaan ekonomi yang ditandai oleh pertumbuhan ekonomi yang tinggi, pada satu mampu dinikmati oleh kelompok masyarakat melalui peningkatan pendapatan sehingga berhasil menjadi kelas menengah. McKinsey Global Institute merilis, pada tahun 2030 pertumbuhan kelas konsumen menjadi 135 juta dari 45 juta penduduk yang saat ini berpendapatan US$3.600 per kapita per tahun.
    Namun pada sisi lain, masih banyak kelompok masyarakat yang tersisihkan dalam derap laju pembangunan. Artinya pertumbuhan ekonomi yang dicapai tidak memberikan tetesan kemakmuran pada sebagian kelompok masyarakat yang lain.

    Ini tercermin dari masih tingginya angka kemiskinan dibalik pertumbuhan ekonomi yang kita capai. Pada 2 Januari 2013, Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan data kemiskinan terbaru di negara kita. Menurut BPS, jumlah penduduk miskin per September 2012 mencapai 28,59 juta orang (11,66 persen), menurun dibanding Maret 2012 yang tercatat 29,13 juta orang (11,96 persen). Atau terjadi penurunan sebesar 0,54 juta atau 540.000 orang.

    Artinya dengan pertumbuhan ekonomi yang dicapai selama tahun 2012 sebesar 6 persen lebih, ternyata hanya mampu mengentaskan kemiskinan sebesar 0,54 juta atau 540.000 orang. Dengan demikian, kualitas pertumbuhan ekonomi yang kita capai, ternyata hanya sedikit sekali mampu mengatasi masalah pengangguran dan kemiskinan.

    Pertumbuhan dan peluang

    Pertumbuhan ekonomi adalah sebuah peluang. Dalam ekonomi yang lesu, bisa melahirkan sebuah peluang, apalagi dalam ekonomi yang bertumbuh seperti sekarang ini. Ekonomi yang tumbuh akan tercipta banyak peluang dan peluang ini yang harus ditangkap. Kemampuan menangkap peluang inilah yang tidak selalu dimiliki oleh setiap orang.

    Disinilah pentingnya pembangunan sumber daya manusia. Pembangunan tidak selalu dari sisi kemajuan fisik, tetapi juga juga harus diikuti kemajuan nonfisik, yakni pelaku pembangunan itu sendiri.
    Kegiatan perekonomian yang kian besar dan maju ini, harus pula ditopang oleh kualitas penduduknya terutama generasi muda yang kian produktif, sehingga dapat meningkatkan produktivitas dan mengatasi masalah pengangguran.

    Generasi muda harus banyak terlibat dalam memanfaatkan momentum keberhasilan pembangunan ekonomi, khususnya dalam memanfaatkan pertumbuhan ekonomi. Dimasa mendatang, menurut McKinsey Global Institute, ada empat sektor potensial yang akan menopang laju perekonomian tersebut yakni pelayanan konsumen atau jasa, pertanian dan perikanan, sumber daya alam, serta pendidikan. Potensi pasar domestik pada empat sektor itu akan meningkat dari US$0,5 triliun menjadi US$1,8 triliun.

    Peluang yang besar ini harus dapat dimanfaatkan oleh generasi muda, dengan memperkuat social entrepreneur sehingga dapat berkontribusi dalam mengatasi masalah pengangguran dikalangan usia muda terutama pengangguran terdidik.
    Memperkuat social entrepreneur dikalangan generasi muda merupakan salah satu cara menggerakkan perekonomian. Survey dari Reynolds & White (1997) menunjukkan bahwa kewirausahaan telah menjadi gaya hidup dan karir bagi banyak orang, juga terjadi di Indonesia. Survey itu menyebutkan sebanyak 4%, atau 1 diantara 25 orang dewasa, berusaha mendirikan perusahaan baru.

    Berdasarkan data hasil penelitian Global Entrepreneurship Monitor (GEM), pada tahun 2006, di Indonesia terdapat 19,3% penduduk berusia 18-64 tahun yang terlibat dalam pengembangan bisnis baru (usia bisnis kurang dari 42 bulan). Angka ini merupakan yang tertinggi kedua di Asia setelah Filipina (20,4 persen), dan di atas Cina (16,2%) serta Singapura (4,9%).

    Data data tersebut menunjukkan bahwa potensi generasi muda dalam memanfaatkan kesempatan ekonomi, terutama melalui kegiatan berwirausaha ternyata sangat besar. Hal ini harus ditangkap oleh pemerintah dengan memberikan iklim yang kondusif bagi tumbuhkembang usaha baru dikalangan generasi muda.
    Setidaknya ada dua hal penting yang harus dilakukan yakni menumbuhkan minat kewirausahaan generasi muda, khususnya generasi muda terdidik dan menumbuhkembangkan UMKM, baik yang baru maupun yang sudah ada menjadi kegiatan yang lebih inovatif yang bersifat formal atau bankable sehingga bisa menampung tenaga kerja lebih banyak.

    Sejak diluncurkan Gerakan Wirausaha Nasional Febuari 2011 lalu oleh Presiden SBY, data Badan Pusat Statistik (BPS) mengungkapkan kini sudah ada 55,53 juta UMKM dan 54 juta lebih diantaranya adalah usaha mikro. Jika keterlibatan angkatan muda terdidik dalam kegiatan kewirausahaan bisa berkembang, maka jumlah UMKM yang ada bisa lebih solid. Jika sebelumnya bersifat informal, bisa lebih formal dan bankable. Jika sebelumnya satu unit UMKM menyerap 1 atau dua orang tenaga kerja, maka bisa bertambah satu orang tenaga kerja baru. Itu artinya akan menambah peluang tenaga kerja baru sekitar 55 juta orang lebih. Sebuah angka yang besar, dan Indonesia akan kekurangan tenaga kerja baru.

    Jika hal itu bisa terlaksana maka masalah pengangguran akan terpecahkan. Apalagi pengangguran terdidik, sebab pengangguran pemuda terdidik mencapai 47,81 persen dari total angka pengangguran nasional. Lulusan perguruan tinggi menjadi pengangguran terdidik tertinggi. Angka pengangguran pemuda terdidik mencapai 41,81 persen dari total angka pengangguran nasional. Jumlah pengangguran terdidik terbanyak adalah lulusan perguruan tinggi, yaitu 12,78 persen. Posisi berikutnya disusul lulusan SMA (11,9 persen), SMK (11,87 persen), SMP (7,45 persen) dan SD (3,81 persen).

    Angka pengangguran pemuda Indonesia pun termasuk yang tertinggi bila dibandingkan dengan negara-negara lain. Bahkan angka pengangguran pemuda Indonesia tertinggi kedua setelah Afrika Selatan. Karena itu, harus ada upaya serius untuk mengurangi angka pengangguran terdidik dengan memperkuat social entrepreneur. (**)

    Oleh: Ainur Rofiq
    Praktisi Bisnis 




    1 komentar:

    1. Salam niaga..
      yuk mari ber-sama² menumbuhkan semangat wirausaha.. dengan jalan apa saja ssuai minat dan bakat kita masing²..

      Salam damai kami sepanjang hari..

      by : @dwistroi

      BalasHapus

    Munas Oi

    Rakernas Oi

    Muskot Oi