• Breaking News


    Kamis, 07 Maret 2013

    PENJAGA KUBUR

    Manusia memang tak pernah tahu jalan hidupnya. Nasib dan peruntungannya semata-mata disandarkan pada sebuah takdir yang telah ditetapkan oleh-Nya. Dan apakah ketika kita mengambil sebuah keputusan yang salah dapat mengubah takdir kita? Ataukah ketika kita salah mengambil keputusan, itu juga bagian dari takdir itu sendiri? Apakah kematian dapat terjadi akibat kita salah mengambil keputusan? Ataukah...? yang pasti kita tak pernah tahu, kapan, dimana, dan bagaimana kita akan menemui takdir kematian kita.


    Hujan yang mengguyur sejak pagi masih juga belum reda. Jalan setapak menuju ke pekuburan tua disudut kampung itu nyaris tak lagi kelihatan. Air berwarna keruh kecoklatan menggenangi hampir seluruh permukaan daratan seolah ingin mengubahnya menjadi lautan. Sesekali kilatan petir tampak menyambar di langit yang mulai gelap. Sore itu cuaca memang benar-benar tak bersahabat bagi siapapun.

    Dikejauhan seseorang lelaki tua tampak berjalan berjingkat-jingkat mencari pijakan. Tangan kirinya berusaha kuat menggenggam sebatang daun pisang yang dipakainya untuk memayungi tubuhnya. Meski percuma, hujan lebat yang dibarengi angin kencang tetap saja membasahi pakaiannya. Tubuh kurus itu tampak menggigil menahan terpaan angin dan dinginnya udara. Jalan desa yang dilaluinya sejak dari rumah tampak lengang. Orang-orang agaknya enggan untuk keluar rumah dalam cuaca yang begitu diingin menusuk tulang.

    Mbah Kerto, begitu lelaki tua itu biasa dipanggil. Ia penjaga pekuburan desa. Pekerjaan turun temurun yang dijalaninya sejak bapaknya mati terserang penyakit TBC tiga puluh tahun lalu. Pekerjaan yang tak dapat ditampiknya, tapi juga tak pernah diharapkannya. Ia terpaksa menjalani dan meneruskan pekerjaan itu dari bapaknya, karena tak satupun penduduk desa yang mau menggantikannya.

    Ia masih ingat, seminggu setelah bapaknya mati, saat ia masih berusia dua puluh lima tahun, pak Lurah memanggilnya ke balai desa.

    “Kerto, aku kira hanya kamu yang bisa menggantikan bapakmu mengurus pekuburan desa. Bukankah sejak dulu kamu selalu ikut membantu bapakmu mengurusnya? Dan lagi, dulu sebelum bapakmu mengurusnya, pekuburan itu juga diurus oleh embahmu.” ujar pak Lurah dengan nada meminta.

    “Kamu tahu kan Kerto? Orang-orang disini tak ada yang berani mengurus pekuburan itu.”  Pak lurah mencoba meyakinkannya.

    Kerto muda tak sanggup angkat bicara. Ia hanya bisa menunduk dan mengangguk-anggukkan kepalanya. Sejak pertemuan di balai desa itu Kerto mudapun mulai menjalankan pekerjaannya sebagai penjaga pekuburan desa dengan mandat dari pak lurah.

     Pekuburan yang terletak dibagian ujung desa dekat bebukitan itu memang dikenal angker. Untuk mencapainya orang harus melewati hutan kecil yang ditumbuhi pohon-pohon tua. Tak ada yang tahu secara persis sejak kapan pekuburan itu ada, karena tak ada prasasti ataupun batu nisan bertulis. Sejak zaman kakek moyangnya mereka memang tak pernah menuliskan identitas nama orang yang dikuburkan disana kecuali hanya berupa potongan batang kayu atau batu sekedar penanda.

    Konon menurut cerita yang pernah mereka dengar secara turun temurun, di pekuburan itu ada makam eyang Jiran, seorang panglima perang yang pernah hidup pada jaman kerajaan Mataram kuno dan kemudian mengasingkan diri di desa itu karena dianggap bekhianat kepada raja Mataram. Hanya sepenggal cerita itulah yang mereka dengar dan percayai. Mereka tak pernah tahu bagaimana dulu ia mati dan dimana letak persisnya makam itu. Yang pasti cerita-cerita tentang keangkeran pekuburan itu oleh penduduk desa dihubung-hubungkan dengan keberadaan makam eyang Jiran yang ada di pekuburan itu.

    Kilatan petir tampak menyambar di angkasa, persis saat mbah Kerto tiba di depan pintu makam. Gelegar suaranya terdengar seperti jeritan para penghuni kubur yang dihimpit paksa oleh tanah yang mengungkungnya. Tubuh mbah Kerto tampak bergetar. Ia mencoba meraih pintu makam dan memegangnya dengan erat lalu membukanya. Engsel pintu yang bergesekan menimbulkan suara derit seperti tangis bayi yang menyayat.

    Mbah Kerto segera menuju ke sebuah bangunan bambu di pojok makam tempat ia biasa melepas lelah saat usai bekerja membersihkan pekuburan. Suara Azan dari corong pengeras suara di masjid desa terdengar sayup, mengalun, menandakan hari telah maghrib.

    Hari mulai gelap. Mbah Kerto segera meraih sebuah lampu minyak yang biasa ia tempelkan di tiang bambu. Ia lalu meraba-raba saku celananya mencari korek api. Namun percuma, korek api dari batang kayu pinus itu telah basah oleh guyuran hujan sepanjang perjalanan tadi. Mbah Kerto hanya bisa bergumam mendapati barang yang dibutuhkannya tak dapat ia gunakan : “Oalah...” Bersamaan dengan itu lampu minyak di tangan mbah Kerto tiba-tiba lepas dari pegangan tangannya, jatuh ke lantai semen, menimbulkan bunyi keras “Praak..! Praang..!! “ Terdengar suara kaca semprong lampu pecah beradu dengan lantai semen. Sebagai orang jawa jatuhnya lampu minyak itu bukanah sebuah kebetulan. Peristiwa itu ditamsilkan oleh mbah Kerto sebagai isyarat kurang baik. Batinnya mulai menduga-duga seperti akan ada peristiwa buruk yang akan terjadi, tetapi apa?

     “Astaghfirullahaladzim.....!!”  Spontan mbah Kerto berucap istigfar.

    Pekuburan itu tampak sunyi. Hanya suara ranting-ranting dan dedaunan dari pepohonan yang tumbuh disekitar pekuburan yang saling bergesekan oleh terpaan angin. Suara gemercik hujan yang turun menambah suasana pekuburan itu terasa makin mencekam. Tanpa dibantu penerangan mbah Kerto berusaha mencari-cari sesuatu benda. Untung ia cukup menguasai situasi di pekuburan itu. Dan tanpa menunggu waktu lama mbah Kerto akhirnya menemukan benda yang ia cari. Ia pun lalu segera bergegas meninggalkan pekuburan.

    Hujan masih belum reda ketika ia menutup kembali pintu pekuburan itu. Seekor cicak pohon jatuh tepat di atas bahunya. Ia terkejut dan menepisnya. Kembali mata batinnya menangkap sebuah isyarat yang kurang beres.

    Dalam suasana malam yang gulita ia kembali menyusuri jalan setapak desa menuju ke arah pedusunan. Jalanan tetap sunyi. Air tampak semakin tinggi menggenangi permukaan jalan yang ia lewati. Arusnya mengalir lebih deras dibanding ketka ia berangkat tadi pagi. Beberapa pohon tampak tumbang dan menghalangi jalannya.

    Tiba didepan pintu rumahnya, mbah Kerto disambut oleh istrinya yang sejak tadi menunggunya. Mbah Kerto memang tak sempat pamit pada istrinya saat pergi tadi.

    “Dari mana to pak, kok hujan-hujanan begini?”

    “Lha ini, aku lupa kalau payung kita ketinggalan di pekuburan. Sudah seminggu payung ini tertinggal di sana, untung tidak hilang.” Jawab mbah Kerto sambil menunjukkan sebuah payung, benda yang ia ambil dari pekuburan itu.

    “Kalau tidak diingatkan oleh hujan aku tak pernah ingat untuk membawa pulang payung itu”  timpalnya seraya menyerahkan payung itu pada istrinya.

    “O ladalah pakne ... pakne ....”

    Mbah Kerto segera masuk ke rumah dan langsung menuju ruang belakang untuk mengganti pakaiannya yang basah kuyup.

    Hujan di luar masih tetap mengguyur dengan derasnya. Nyala api dari lampu minyak tanah yang menempel di dinding yang terbuat dari bilik bambu bergoyang-goyang dihembus angin yang masuk dari celah-celah dinding. Kambing yang ia peihara di kandang belakang rumah tiba-tiba bersuara gaduh, mengembik-embik tak karuan.

    Kepergiannya sore itu ke pekuburan ditengah hujan lebat membuat tubuhnya yang tua digerogoti penyakit asma menjadi sedikit demam. Mbah Kerto terbatuk-batuk. Suaranya terdengar serak. Tubuhnya menggigil. Ia tampak menyadari kekeliruannya.

    “Mestinya tadi aku tidak memaksakan pergi disaat hujan lebat.” Batinnya memprotes atas tindakannya sendiri. Tapi ia sendiri tak pernah mengerti mengapa ia tak mampu mencegah kakinya untuk tidak melangkah pergi ke pekuburan itu. Seperti didorong oleh sebuah kekuatan ghaib yang merasuk ke alam bawah sadarnya untuk pergi ke pekuburan itu.

    Mbah Kerto tak pernah tahu bahwa itu adalah perjalanannya yang terakhir mengunjungi pekuburan yang ia urus dan pelihara selama bertahun-tahun. Pekuburan dimana orang-orang di desanya dan juga sanak keluarganya terbaring untuk selamanya dan mungkin juga dirinya suatu saat nanti.

    Ia benar-benar tak pernah tahu, bahkan sampai keesokan harinya saat orang-orang dan regu penolong dari Tim SAR menemukan jasadnya terbujur kaku bercampur lumpur, tersangkut di pintu pekuburan, tempat dimana sejak tiga puluh tahun yag lalu ia mendapat mandat dari pak lurah untuk mengurusnya. Disampingnya tergeletak sebuah payung berwarna hitam.

    Malam menjelang pagi dusun itu telah musnah, porak-poranda rata dengan tanah di sapu air. Banjir bandang yang datang dengan tiba-tiba bak air bah telah melenyapkan semuanya. Tak ada lagi yang tersisa kecuali pekuburan tua di sudut desa yang kini tanpa penjaga.

    (oleh : Pudji Pamungkas)

    Tidak ada komentar:

    Posting Komentar

    Munas Oi

    Rakernas Oi

    Muskot Oi