• Breaking News


    Kamis, 23 Januari 2014

    BURUH MIGRAN MENGGENGGAM CITA-CITA


    Aku migran Indonesia
    Aku punya cita-cita
    Punya sawah, punya mobil, jadi menteri atau bupati......

    Sebait kalimat diatas adalah penggalan lagu progresif yang diciptakan oleh Buruh Migran Indonesia di Hong Kong. Lewat sebuah lagu, mereka menggambarkan tentang cita-cita yang terhenti karena keterbatasan ekonomi.

    Indonesia sebagai negara berkembang yang mempunyai jumlah peduduk sekitar 250 jiwa, dengan penyebaran penduduk yang tidak merata, dan pulau yang paling padat penduduknya adalah Jawa hal ini berimbas pada susahnya mendapatkan lapangan pekerjaan.

    Menjadi buruh migran  adalah salah satu alternatif untuk mendapatkan pekerjaan, bagi sebagian masyarakat Indonesia. Buruh Migran Indonesia tersebar diberbagai negara antara lain: Korea, Jepang, Hong Kong, Brunae, Malaysia dan masih banyak lagi negara lainnya.

    Jumlah Buruh Migran Indonesia atau BMI di Hong Kong saja sudah mencapai 160 ribu jiwa lebih yang 95% nya adalah perempuan. Mereka berasal dari berbagai daerah dengan latar belakang budaya, dan pendidikan, serta status sosial yang berbeda.

    Negara Hong Kong yang luas wilayahnya sekitar 1.104 km persegi, dengan jumlah penduduk 7 juta jiwa boleh dibilang negara kecil, akan tetapi Hong Kong mempunyai sistim pemerintahan yang cukup baik, termasuk dalam memperlakukan Buruh Migran. Mereka memberikan satu hari libur dalam seminggu dan dua belas hari libur nasional dalam setahun kepada BMI.
    Pemerintah Hong Kong  juga memberi kebebasan penuh untuk berorganisasi kepada para buruh migran serta kebebasan dalam bidang pendidikan. Dengan demikian maka terbentuklah komunitas dari para buruh migran pada saat libur, untuk membentuk organisasi, atau pusat-pusat pelatihan.

    Banyak kita jumpai pusat pelatihan pada hari libur. Disepanjang jalan Taman Vctoria, seperti contohnya: latihan menari, latihan musik, menjahit, tata rias pengantin dan masih banyak lagi. Di Hong Kong juga tersedia Universitas Terbuka bagi yang ingin meneruskan pendidikanya.

    Warsiem (43 tahun), seorang ibu asal Purwokerto  (minggu 1/12)  mengaku telah siap untuk membuka salon sendiri setelah pulang nanti. "Ya saya memang punya niat buka salon tapi khusus rias pengantin, saya kursus tiga bulan dan alhamdulillah sudah menguasai tehnik merias wajah, tinggal memadukan aksesoris dan bajunya. Kalau baju pengantin kan gampang dicari, pokoknya saya sudah siap," ujarnya.

    Berbeda lagi dengan Laras Wati (31 tahun) ibu muda asal Jawa Timur ini lebih menekuni bakat sastranya, yang memang sudah kelihatan sejak kecil.
    Tapi karena benturan ekonomilah, maka menjadi BMI adalah jembatan yang di pilihnya. Sambil menyelam minum air, pepatah ini cukup membuat seorang Laras kembali bangkit berkarya, disela-sela kesibukanya sebagai BMI dia terus berkarya, dengan bergabung di Forum Lingkar Pena ( FLP ) bersama sastrawati-sastrawati muda lainya dia belajar dan terus menggoreskan pena menjadi rangkaian karya yang indah, Berbagai penghargaan juga sudah diraihnya. Ketika ditanya tentang prestasi apa saja yang pernah diperoleh dengan rendah hati Laras  menjawab, "belum banyak,.. kok."

    Juara 1 lomba menulis tentang sosok ayah di penerbit Harvey, Juara 1 lomba menulis cerpen yang diadakan oleh Bumi Buku, Juara II Lomba cipta puisi pada Festival Migran Center. Juga pernah diundang oleh ibu Nanik Pranoto ke Jakarta, untuk menebarkan virus menulis kepada para mahasiswa.
    Bahkan Laras (panggilan sehari-Laras Wati) yang juga anggota Oi MERAH PUTIH sudah berhasil membukukan karyanya yang berjudul "KUPU-KUPU MALAM".
    untuk kedepanya setelah pulang ke tanah air Laras Wati tetap ingin menjadi penulis yang jujur, ingin menyampaikan visi dan misinya lewat karya untuk kebaikan.

    Dengan banyaknya pusat pelatihan ketrampilan dan pendidikan, diharapkan bisa bermanfaat untuk buruh migran ketika kembali ketanah air. Sehingga bukan hanya sebagai perempuan mantan buruh migran, akan tetapi menjadi perempuan Indonesia yang mumpuni.

    Semoga dengan banyaknya organisasi, pusat-pusat latihan dan kebebasan dalam bidang pendidikan bisa menjadikan wadah bagi perempuan Indonesia agar tidak terseret kedalam kehidupan yang tidak sesuai dengan kepribadian bangsa kita. Bisa membentengi para BMI dari pengaruh budaya barat, sehingga kita tetap bisa tampil sebagai pribadi bangsa Indonesia, meskipun kita berada di luar negeri.(*)

    (Oleh : YANI HK)

    Tidak ada komentar:

    Posting Komentar

    Munas Oi

    Rakernas Oi

    Muskot Oi