• Breaking News


    Senin, 31 Maret 2014

    JURNALIS TABLOI MERAIH PENGHARGAAN PENGGIAT SENI

    Seni bisa membuat sesuatu yang biasa menjadi indah. Ditangan Fandhy Rais, paduan warna-warna yang tertuang diatas kanvas, menjadi sebuah karya seni lukis yang mengagumkan, waktu 10 menit rasanya tidak cukup untuk menikmati setiap garis-garis warna karyanya.

    Putra Gorontalo yang mulai melukis dari usia 11 tahun ini,  baru saja meraih penghargaan sebagai Penggiat Seni dan Budaya pada tanggal 22 Maret 2014, di Gorontalo.

    Ketika dikonfirmasi (28/3) mengenai berbagai penghargaan yang sudah didapatkan,  jurnalis Tabloi untuk wilayah Gorontalo yang sudah masuk menjadi anggota ORMAS Oi, sejak tahun 1999  tidak banyak berkomentar,
    "Belum sebanyak orang lain, paling baru tanggal 22 Maret kemaren, Award sebagai Penggiat Seni Budaya, Alhamdulillah." ungkapnya penuh syukur.


    Darah seninya mengalir dari kedua orang tua. Ibu seorang pemain drama panggung, sedangkan Bapak adalah pelukis. Anak kedua dari 9 bersaudara ini,  pernah mengadakan pameran tunggal DWI WARNA pada tahun 1988, Pameran bersama SUMPAH PEMUDA tahun 1990.
    Kemudian absen dari dunia seni lukis, dari tahun 1990 sampai 2011. Namun  dunia seni kembali memanggil  jiwanya. Hingga pada tahun 2012.  Bang Fandhy kembali ke dunia seni lukis. Dengan mulai mengikuti berbagai pameran.

    "Saya anak kedua dari 9 bersaudara, melukis sejak usia 11 tahun, ayah saya seorang pelukis dan ibu seorang pemain drama panggung. Kedua orang tua berasal dari Gorontalo, pada tahun 1988 saya mengadakan pameran tunggal DUA WARNA di Tolitoli. Pameran bersama SUMPAH PEMUDA tahun 1990,  sekian tahun absen di dunia seni lukis, untuk mengelola usaha percetakan dan desain grafis. Tahun 2011 kembali ke dunia seni rupa,  karena panggilan jiwa memang di dunia seni lukis. Kemudian di tahun 2012 saya  pameran Drawing Pencil, Gorontalo. Hitam Putih. Tahun 2013 Pameran dan Demo Body Painting di ajang Paket Abad Seni  (PAS 2013),  di  Kampus Universitas Gorontalo," ujar bang Fandhy mengisahkan.

    "Kalau karya drawing pencil ada sekitar ratusan jumlahnya, selain itu ada pula karya lukisan saya dengan media oil di atas kanvas dan yang terbaru dalam garapan BERCANDA DENGAN RELIEF [Acrylic on canvas]. ANAK JAMAN [acrylic on canvas] dan BERTAHAN DI ARUS DERAS TEKNOLOGI."
    Bang Fandy terus mengapresiasikan seninya bahkan merambah kepulauan Jawa dan Bali.

    "Pada bulan Oktober 2013, ikut pameran Non Expretion di Taman Budaya Surakarta, bulan Desember sampai dengan Januari, Pameran bersama Pelukis Bali dan Jawa, di Legian Beach Bali dan Sun Shoot Kuta Bali."

    Sebagai seorang pelukis, apapun bisa dijadikan obyek, meski demikian Ia mengaku, kucing adalah obyek yang paling disukai. Dan dari ratusan karya, Bang Fandhy mempunyai satu karya yang paling disukai. Yaitu lukisan wajah Iwan Fals yang merupakan tokoh idolanya.

    "Kucing itu lucu, efect pada mata dan bulunya asik dikerjakan. Kalau lukisan, tergantung suasana hati, kalau suasana hati lagi enak bisa satu jam, satu hari bahkan satu bulan. Saya suka lukisan BERCANDA DENGAN RELIEF diatas canvas, kalau yang di atas kertas, saya suka 4 karya wajah bang Iwan yang beliau tanda tangani." pungkasnya.

    Semoga akan terus tumbuh generasi Fandhy Rais, seniman-seniman yang bisa membuat Indonesia menjadi lebih indah. (*)

    1 komentar:

    1. Min, ane ijin titip info ya. Kali aja ada pembaca blog ini yang butuh Kemasan Makanan buat usaha makanannya. Kalo ada yang butuh, bisa coba hubungin kita di http://www.greenpack.co.id/

      BalasHapus

    Munas Oi

    Rakernas Oi

    Muskot Oi