• Breaking News


    Jumat, 07 Maret 2014

    LIKU-LIKU PERJALANAN BUDI CILOK


    Dibalik keberhasilan ada campur tangan Tuhan dan usaha yang sungguh-sungguh.Budi Cilok asal Bandung, yang mempunyai suara mirip dengan Iwan Fals, adalah seorang pengamen jalanan yang berani dalam bersikap.

    Ditanya saat ketemu Iwan Fals, apa pendapat beliau tentang suaranya Kamis (6/3) melalui media elektronik ia menjawab;"Desember tahun lalu, kebetulan mas Iwan hadir di launching album saya, mas Iwan berkomentar ini tidak sama cuma timre suaranya aja yang sama. Dan memberi suport baik tentunya, untuk terus berkarya."

    Lelaki kelahiran Mei 1978 ini, sempat meninggalkan bangku sekolah dasar ketika masih kelas 4. Budi yang sewaktu kecil selalu berkepala botak hingga dipanggil Cilok (makanan seperti bakso berbahan aci sedikit mengkilat-red), mengaku tertarik dengan dunia musik sampai-sampai memutuskan untuk berhenti sekolah. Karna merasa lebih betah ngamen di jalanan. Waktu itu ia merasa ngamen lebih berguna dari pada belajar di sekolah.

    Sehingga Budi betah menjalani, mencari pengetahun soal musik ini dijalanan. Berawal dari bus, terminal, pasar, dan lampu merah. Budi menganggap semua tempat ngamennya adalah studio terbuka untuk berlatih.

    Tahun 1995 Budi Mulyono nama asli Budi Cilok mulai belajar menulis dan membuat lagu. Mengikuti festival sana sini sebagai uji coba, hingga akhirnya ia membentuk satu grup band yang diberi nama KAMPUNGAN. Sekitar tahun 1998/2000, Band KAMPUNGAN mendapat kesempatan untuk mulai membuat satu album. Dipertemukan oleh Tomy Alen dengan seorang yang menurut Budi sangat hebat yaitu Bapak Aher.

    Di jalan Banda Bandung, mereka mulai belajar dari awal, bagaimana membentuk keseriusan, sampai bagaimana cara membuat musik dan menyebarkannya. Satu tahun dua album, Budi dan groupnya di bawah bimbingan Bapak AHer dan teman teman. Yaitu album "Haru Hati" dan album "Akar Rumput".

    Budi yang termasuk pendiri Oi Bandung tahun 1999,  merasa semua mengalir terus tanpa ada rekayasa dan paksaan. Tahun 2006, ia hijrah ke Jakarta dan bertemu dengan sebuah grup akustik yang bernama TOLENTINO band, kemudian ia bergabung sebagai vokal.

    "Di salah satu caffe di Ancol saya dan TOLENTINO lagi-lagi merencanakan dan melakukan bagaimana agar lebih luas dan baik lagi, sehingga beberapa kesempatan saya dapat di sana untuk rekaman. Namun tidak ada satupun karya yang menjadi album," Budi menambahkan.

    "Padahal waktu itu si pemilik caffe adalah orang-orang besar di musik. Kebetulan Pak Hari Koko Santoso presiden Deteksi Production, Bu Acin Musika, Pak Ian Sony musik, Pak Tiro." tambahnya.

    Setelah 4 tahun di Jakarta, nasib rupanya belum berpihak, akhirnya ia kembali ke Bandung dan berkumpul bersama kawan kawan. Mungkin memang sudah garis tangannya hidup dimusik. Lagi-lagi lewat seorang teman ia bertemu dengan Tomi Alen. Dan dikenalkan dengan Bapak H. Ainul.
    Masih seputar lagu, Bapak H.Ainul meminta Budi membuat lagu dengan tema "SEPERTIGA MALAM", yang dinyanyikan pada malam ulang tahunnya.
    Dengan dihadiri oleh para musisi senior seperti: Pak Cok Rampal, mas Hery Buhaery, Edi Darome, Sonata, Deni (mereka adalah pengiring musik Iwan Fals saat manggung-red),"

    Dari pertemuan di malam ulang tahun Bapak H. Ainul maka lahirlah album "SEWAJARNYA"  yang berisi 9 buah lagu. Sesuai dengan nama sewajarnya, album ini pun berjalan sewajarnya.hampir berjalan 5 tahun hingga rampung satu album.

    Pria yang pernah menjadi bintang tamu acara TV 'Bukan Empat Mata' ini juga memaparkan; "Banyak ilmu hebat saya dapat di kisah album ini. Dari mulai harus tahu bagaimana mencipta lagu, sampai bagaimana mempromosikannya. Lalu menjual CD Album tersebut dan itu saya lakukan. Saya ngamen, dimana ada acara saya masuk."

    "Nyanyi dan buka lapak jual CD, samping panggung. Istri saya jualan CD album, saya nyanyi. Karna memang kami waktu itu tidak ada tim yang terbentuk. Tapi saya nggak mau album "SEWAJARNYA" ini tidak tersampaikan. Karena ini album sejarah buat saya. Jadi dengan cara apa saja saya mengabarkannya kepada kawan-kawan. Terima kasih, Tomi Alen, Pak Ainul.Sonata, Mas Heri. Mas Edi, Mas Deni juga saudara-saudara penikmat lagu Budi Cilok yg kini jadi 'CILOKERS' (sebutan untuk penggemar Budi Cilok-red) kawan Oi, kawan Slankers, atas segalanya semoga Tuhan membalas kebaikanya."

    Tahun 2013 seperti sebuah tahun perubahan bagi seorang Budi.
    "Tahun ini saya di tuntun Tuhan bekerja sama dengan salah satu label di Jakarta, 'Keci Musik' sekarang lagi bikin single yang berjudul "NYANDUNG" di bawah naungan Keci Musik. Yang tahun ini akan selesai, semoga. Karna Budi Cilok masih belum harus berhenti. Citarum masih jauh untuk sehat, karna Citarum menjadi gairah saya bernyanyi, dan mengabarkannya dan mungkin akan berhenti menyanyi kalau Citarum sudah bagus lagi, hehee.. Perjalanan masih panjang. Salam pergerakan," pungkas Budi penuh makna. (*)

    (Oleh : Yani Serdadu)








    Tidak ada komentar:

    Posting Komentar

    Munas Oi

    Rakernas Oi

    Muskot Oi