• Breaking News


    Senin, 03 Agustus 2015

    Golongan Darahnya Oi


    Saiful Ramadlan / Kang Epol (Dept. Litbang BPP Oi)

    Untuk mengetahui golongan darah yang ada dalam tubuh seseorang sehingga bisa digunakan memilih golongan darah yang cocok jika memerlukan donor darah, Pemeriksaan golongan darah seseorang akan memberikan gambaran hasil menjadi golongan darah A, B, AB, dan O, Seperti halnya petugas Palang Merah Indonesia (PMI) saat sedang melakukan pemeriksaan kepada calon pendonor,

    Namun akan berbeda ketika jawabannya adalah bukan golongan darah seperti yang disebut di atas,

     “Golongan darahnya apa ?” tanya petugas  PMI.  Jawab : “Saya golongan darahnya Oi.”
     
      Dialog ini terjadi disaat Oi mengadakan kegiatan Donor Darah dalam kegiatan Jambore Nasional Oi I di Cibubur Jakarta, Saat itu menjadi peserta donor darah  dan santai bercanda,  Tapi ketika  hal ini didalami menjadi candaan yang bergeser menjadi sebuah kajian. Mengapa darah Oi ?

      Pada fase sebelum berdirinya Oi, saya sering nongkrong di beberapa radio di Bandung seperti Ganesha, Shinta, dan Generasi Muda Radio. Sebagai seorang mahasiswa yang gemar mengikuti forum di mimbar bebas, kampus, radio, dan  tv membuat saya sering diundang mulai dari sebagai peserta sampai menjadi  pengisi materi sebagai moderator dan pembicara.

      Sampai pada suatu ketika saya menjadi peserta  Jambore Nasional Oi I Tahun 2000 di Cibubur bersama Dewi Andriani (istri, waktu itu belum menikah) dan teman-teman dari Oi Bandung. 
    Saya menulis dalam catatan harian dengan kalimat “Saya mau ngaji Oi.”

      Menjalani kehidupan sebagai seorang pemerhati masalah sosial membutuhkan kemampuan komunikasi dan daya analisis yang cukup tajam.
      Prinsip yang saya anut cukup sederhana, Kuncinya adalah dalami persoalan, Dan untuk mendalami persoalan adalah masuk kepada ruang kajian yang membutuhkan objektifitas maka aliran berpikir logis dengan melakukan pendekatan tesis-anti tesis-sintesis. 

      Barangkali ini membentuk atmosfer yang terbuka dan kontribusi pemikirannya selalu dinanti oleh pengambil kebijakan. Cukup strategis memang, tatkala jajaran Musyawarah Pimpinan Daerah (Muspida) yang terdiri dari Kapolda,Pangdam, dan Gubernur melakukan dengar pendapat dari seorang Epol.

      Jejak rekam ini menjadi benang merah perjalanan panjang yang kemudian pada tahun 2003-2006 di bawah kepemimpinan Ketua Umum BPP Ormas Oi Digo Dz  saya menjadi litbang yang saat itu dengan “kenakalannya” menamakan diri litbang menjadi jeprut.

    Jeprut adalah jeprut. Jeprut adalah singkatan dari jelajahi pemikiran rasional yang utama. Dan kini di periode tahun 2013-2017, Ketua Umum BPP Ormas Oi Ibu Rosana Listanto melibatkan saya di Departemen Litbang.

    kang Epol saat Wawancara televisi (Konser Suara Untuk Negeri di Medan)
    Sebagai litbang, saya memiliki pandangan terhadap Ormas Oi melalui Analisa SWOT (kekuatan, kelemahan, peluang, tantangan). Saya menyampaikan hal-hal terpenting saja.

    Kekuatan (internal) Ormas Oi adalah saat ini Ketua Umum BPP Ormas Oi Ibu Rosana Listanto. Iwan Fals sebagai Pendiri Ormas Oi memberikan dorongan moral organisasi sehingga  nilai-nilai kebaikan yang selalu disampaikan di panggung menjadi komitmen pergerakan yang direspon oleh anggota Ormas Oi.

    Kelemahan (internal) Ormas Oi adalah apa yang telah dilakukan sebelumnya tidak ditindaklanjuti menjadi program lanjutan yang fokus, terus menerus, dan berdampak kepada pemberdayaan anggota Ormas Oi.
    Bisa kita  mulai dengan memilah dan memilih potensi program. Selanjutnya adalah eksis dan berkelanjutan. Misal tentang pelatihan, perekrutan, bea siswa dan lain-lain yang semuanya itu adalah pengembangan dari jaringan organisasi.

    Peluang (eksternal) Ormas Oi adalah sejalan dengan waktu Ormas Oi mampu membuktikan dirinya bukan sekedar organisasi yang dihitung tetapi organisasi yang diperhitungkan.

    Tantangan (eksternal) Ormas Oi terdapat pada dinamika jaman dan bagaimana meresponnya. 

    Dari uraian tersebut akan nampak pemecahan masalah dan mengapa muncul litbang melahirkan ide tentang perlunya pelatihan public speaking (belajar bicara). Saya sadar tulisan ini tidak mampu menuntaskan pemahaman tentang Ormas Oi  atau dengan istilah “khataman Oi.”  Maka tidak salah kalau saya pernah menulis “Saya mau ngaji Oi.”

    Tidak ada komentar:

    Posting Komentar

    Munas Oi

    Rakernas Oi

    Muskot Oi