• Breaking News


    Selasa, 21 Januari 2020

    22 Januari, Buku dan Kisah Cinta yang Absurd



    tablOi.com - 22 Januari adalah romantisme sendu dan kesenduan yang teramat romantis. Sebuah lagu yang mampu hadirkan kesenduan dan romantisme secara keroyokan. Terutama bagi kamu yang kutu buku dan punya kisah khusus tentangnya.

    Virgiawan Listanto (Iwan Fals), memang sering menciptakan lagu dengan pesan yang teramat mendalam. Namun selalu enak didengar di telinga. Tak salah jika dia dijuluki sebagai bapak musik balada.

    Jika 22 Januari didengar secara asal, kita akan merasa bahwa lagu ini teramat romantis. Namun jika didengar kembali secara seksama, ada kegetiran yang coba ingin disampaikan. Meski, getirnya tidak bergetar secara jelas.

    Jalan berdampingan tak pernah ada tujuan
    Membelah malam mendung yang selalu datang
    Kudekap erat, kupandang senyummu
    Dengan sorot mata yang keduanya buta


    Berat, Oi. Sulit melanjutkan lirik lagu tersebut. Lagu ini menyimpan gelak haru yang tak terkira kedalamannya. Coba dengarkan saat tengah malam sambil pakai earphone. Kamu akan merasakan feelnya.

    Lagu 22 Januari masuk dalam album Sarjana Muda yang rilis pada 1981 silam. Album ini memang berisi lagu-lagu Iwan Fals paling populer. Umar Bakrie, Hatta, dan Sarjana Muda adalah beberapa lagu populer pada album ini.

    Ada banyak kisah yang bisa ditafsir dari lagu 22 Januari ini. Terutama jika saat kita saksikan video klip officialnya. Dari pengamatan saya, lagu ini berkisah tentang dua sejoli saling mencintai namun tak tahu harus dibawa kemana cinta mereka.

    Dalam narasi lagu ini, ada kepasrahan puitis dan keputusasaan yang teramat melankolis. Bukan cinta yang tak berbalas. Tapi, bisa jadi, cinta tak terestui orang tua. Atau kekasih kedua. Atau Nabsky punya pembacaan lain? Hehe

    Keberadaan Buku adalah Kunci

    Saya membayangkan, seorang lelaki atau perempuan kutu buku yang telah lama menjomblo, tiba-tiba kenal dekat dengan seorang perempuan atau lelaki yang juga kutu buku. Dari sana, komunikasi pun terjalin. Nyaman. Dan menjalin kasih.

    Dua buku teori
    Kau pinjamkan aku
    Tebal tidak berdebu
    Ku baca selalu


    Bagi saya, kisah kasih berbasis buku selalu mengagumkan. Mencintai buku saja sudah sesuatu yang luar biasa. Apalagi jika saling mencintai karena buku. Betapa buku sangat berperan pada kisah-kisah percintaan. Hmm

    Sayang, kisah kasih mereka (dalam lagu ini) ter-distract masalah eksternal. Jika tidak disetujui orangtua, bisa juga salah satu diantaranya sudah berpasangan. Dan dari sinilah, kesedihan lagu itu bermula.

    Saya percaya jika Bang Iwan seorang pembaca buku. Itu bisa dilihat dari betapa memukaunya lirik di tiap lagunya. Tanpa baca buku, saya kira mustahil bisa menulis lirik seperti itu. Bahkan, ada beberapa lagu yang secara langsung menyebut kata “buku”.

    Dari pengamatan yang tidak mendalam, ada tiga lagu Bang Iwan yang secara langsung menyebut kata buku. Antara lain; 22 Januari, Buku Ini Aku Pinjam, dan Sarjana Muda. Bagi penikmat buku, siapa yang tidak terkoyak mendengar lagu-lagu itu?

    Dari lagu tersebut, kita tahu betapa absurdnya rasa cinta. Tidak jelas. Dan cenderung aneh. Coba perhatikan dan renungkan, dari lagu itu, antara bahagia dan sedih terasa begitu sumir kan?

    Dalam hidup, mungkin kita sering merasakan perasaan cinta yang seperti itu. Batas antara sedih dan bahagia teramat tipis. Bahagia dan sedih yang tidak jelas dari mana asalnya.

    22 Januari adalah romantisme sendu dan kesenduan yang teramat romantis. Sebuah lagu yang mampu hadirkan kesenduan dan romantisme secara keroyokan. Mampus kau dikeroyok romantisme dan kesenduan! (*Branda Lokamaya)






    1 komentar:

    Munas Oi

    Rakernas Oi

    Muskot Oi